Hormat dan Patuh kepada Orang Tua dan Guru

 Membuka Relung Hati

    Kita  semua  pasti  memiliki  orang  tua,  baik  yang  masih  dapat  kita  kecup  tangannya  ataupun  yang  sudah  tiada.  Telah  jelas  bahwa  kedua  orang  tua  sangat   berjasa   kepada   kita.   Betapa   banyak    pengorbanan    yang    mereka    lakukan  untuk  kita.  Sejak  kita  masih  kecil   hingga   sekarang   ini.   Mereka   mengorbankan     jiwa,     raga,     harta,     waktu,  dan  lainnya  demi  kita.  Sudah  sepatutnya  kita  menempatkan  mereka  pada kedudukan yang semestinya, yakni menghormati dan menyayanginya.

    Islam     telah     mengatur     segala     hal    dalam    kehidupan    pemeluknya,    termasuk  menjunjung  hak-hak  kedua  orang  tua  kita  dan  mengajarkan  untuk  berbuat  baik  pada  keduanya.  Kedua  orang  tua  kita  telah  mendidik  dan  membesarkan  kita  dengan  susah  payah. Tak  sedikit  keringat  yang  mengucur.  Tak  terhitung  waktu  yang  telah  terkuras  baik  di  waktu  siang  maupun  di  keheningan  malam.  Tak  sedikit  perih  yang  harus  ditahannya  demi  kebahagiaan  anak-anaknya.  Terkadang  mereka  harus  menahan  lapar asalkan anak-anaknya kenyang. Mereka selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya di atas kebutuhannya sendiri.

    Betapa  mulianya  perilaku  orang  tua  terhadap  anak-anaknya.  Sungguh  tidak  berlebihan kalau Rasulullah saw. menegaskan bahwa, “Riḍa Allah terletak pada riḍa orang tua, murka Allah terletak pada murka orang tua.” Namun demikian, sering  kali  kita  saksikan  melalui  media,  betapa  sadisnya  seorang  anak  tega  menyiksa kedua orang tuanya, kejamnya seorang anak membunuh orang tuanya, dan masih banyak lagi cerita memilukan antara anak dan orang tua yang berujung orang  tua  menjadi  korban.  Kebaikan  orang  tua  seakan  sirna  ditelan  egoisme  seorang anak, hanya sekadar keinginannya tidak dipenuhi.

    Lalu,  apa  yang  semestinya  kita  lakukan  sebagai  anak?  Semoga  kita  bisa  menjadi anak yang dapat menghormati orang tua dan berbakti kepada keduanya sehingga orang tua bangga atas kebaikan anak-anaknya.

A.  Pentingnya Hormat dan Patuh kepada Orang Tua

    Menghormati  orang  tua  sangat  ditekankan  dalam  Islam.  Banyak  ayat  di  dalam al-Qur’ān  yang  menyatakan  bahwa  segenap  mukmin  harus  berbuat  baik  dan menghormati orang tua. Selain menyeru untuk beribadah kepada Allah Swt. semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, al-Qur’ān juga menegaskan kepada umat Islam untuk menghormati kedua orang tuanya.

    Sebagai muslim yang baik, tentunya kita memiliki kewajiban untuk berbakti kepada  orang  tua  kita  baik  ibu  maupun  ayah.  Agama  Islam  mengajarkan  dan  mewajibkan kita sebagai anak untuk berbakti dan taat kepada ibu-bapak. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan perbuatan yang terpuji.

    Sebagaimana telah dijelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada umat manusia  untuk  menghormati  orang  tua.  Dalil-dalil  tentang  perintah  Allah  Swt.  tersebut antara lain:
Artinya: “Dan  Tuhanmu  telah  memerintahkan  agar  kamu  jangan  menyembah  selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada  keduanya  perkataan  “ah”  dan  janganlah  engkau  membentak  keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah  dirimu  terhadap  keduanya  dengan  penuh  kasih  sayang  dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. al-Isrā’/17: 23-24)

    Pentingnya  seorang  anak  untuk  meminta  doa  restu  dari  kedua  orang  tuanya  pada setiap keinginan dan kegiatannya karena restu Allah Swt. disebabkan restu orang  tua.  Orang  yang  berbakti  kepada  orang  tua  doanya  akan  lebih  mudah  dikabulkan oleh Allah Swt.

    Apalagi  seorang  anak  mau  melakukan  atau  menginginkan  sesuatu.  Seperti,  mencari ilmu, mendapatkan pekerjaan, dan lain sebagainya, yang paling penting adalah meminta restu kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
Artinya: “Riḍa Allah terletak pada riḍa orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR. Baihaqi)

Artinya: “Aku bertanya kepada Nabi saw., “Amalan apakah yang paling dicintai oleh  Allah  Swt.?”  Beliau  menjawab,  “Ṡalat  pada  waktunya.”  Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau  menjawab, “Berbakti kepada orang tua.”  Aku  berkata,  “Kemudian  apa?”  Beliau  menjawab,  “Kemudian  jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)
 
    Perlu ditegaskan kembali, bahwa birrul wālidain (berbakti kepada kedua orang tua), tidak hanya sekadar berbuat ihsan (baik) saja. Akan tetapi, birrul wālidain memiliki  ‘bakti’.  Bakti  itu  pun  bukanlah  balasan  yang  setara  jika  dibandingkan  dengan  kebaikan  yang  telah  diberikan  orang  tua.  Namun  setidaknya,  berbakti  sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.
 
Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul wālidain, yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” 

    Imam  Adz-Dzahabi  menjelaskan,  bahwa  birrul wālidain  atau  bakti  kepada  orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban:
Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat.
Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan   oleh orang tua.
Ketiga: Membantu atau menolong orang tua bila mereka membutuhkan.

    Tentu  saja,  kewajiban  kita  untuk  berbakti  kepada  kedua  orang  tua  dan  guru  bukan tanpa alasan. Penjelasan di atas merupakan alasan betapa pentingnya kita berbakti kepada kedua orang tua dan guru.

    Adapun hikmah yang bisa diambil dari berbakti kepada kedua orang tua dan guru, antara lain seperti berikut.
1.Berbakti kepada kedua orang tua merupakan amal yang paling utama.
2.Apabila orang tua kita riḍa atas apa yang kita perbuat, Allah Swt. pun riḍa.
3.Berbakti  kepada  kedua  orang  tua  dapat  menghilangkan  kesulitan  yang  sedang dialami, yaitu dengan cara bertawasul dengan amal saleh tersebut.
4.Berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur.
5.Berbakti  kepada  kedua  orang  tua  dapat  menjadikan  kita  dimasukkan  ke  jannah (surga) oleh Allah Swt.

Dikisahkan, ada seorang laki-laki yang menghadap Nabi Muhammad saw. dan berkeinginan untuk berbai’at kepada Nabi serta ikut berjihad dengan tujuan mencari pahala dari Allah Swt. Kedua orang tua laki-laki tersebut masih hidup. Kemudian, Nabi menyuruh laki-laki tersebut untuk kembali kepada kedua orang tuanya dan menyuruh berbuat baik, menemani dan mengurus orang tuanya.” (Muttafaq ‘alaih)

B. Hormat dan Patuh Kepada Guru

    Guru adalah orang yang mengajarkan kita dengan berbagai ilmu pengetahuan dan    mendidik  kita  sehingga  menjadi  orang  yang  mengerti  dan  dewasa.  Walau  bagaimana tingginya pangkat atau kedudukan seseorang, dia adalah bekas seorang pelajar  yang  tetap  berhutang  budi  kepada  gurunya  yang  pernah  mendidik  pada  masa dahulu.Guru  adalah  orang  yang  mengetahui  ilmu  (‘ālim/ulamā),  dialah  orang  yang  takut kepada Allah Swt. 

Artinya:  “Dan  demikian  (pula)  di  antara  manusia,  makhluk  bergerak  yang  bernyawa   dan   hewan-hewan   ternak   ada   yang   bermacam-macam   warnanya  (dan  jenisnya).  Di  antara  hamba-hamba  Allah  yang  takut  kepada-Nya,  hanyalah  para  ulama.  Sungguh,  Allah  Mahaperkasa,  Maha Pengampun.” (Q.S. Fāṭir/35: 28)

    Guru  adalah  pewaris  para  nabi.  Karena  melalui  guru,  wahyu  atau  ilmu  para  nabi  diteruskan  kepada  umat  manusia.  Imam  Al-Gazali  mengkhususkan  guru  dengan sifat-sifat kesucian, kehormatan, dan penempatan guru langsung sesudah kedudukan  para  nabi.  Beliau  juga  menegaskan  bahwa:  “Seorang  yang  berilmu  dan  kemudian  bekerja  dengan  ilmunya  itu,  maka  dialah  yang  dinamakan  besar  di bawah kolong langit ini, ia adalah ibarat matahari yang menyinari orang lain dan  mencahayai  dirinya  sendiri,  ibarat  minyak  kesturi  yang  baunya  dinikmati  orang lain dan ia sendiri pun harum. Siapa yang berkerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan satun dalam tugasnya ini.”

    Penyair  Syauki  telah  mengakui  pula  nilainya  seorang  guru  dengan  kata-kata  sebagai berikut: “Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul.”

    Guru adalah bapak rohani bagi seorang murid, ialah yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak, dan membimbingnya. Maka, menghormati guru  berarti  penghargaan  terhadap  anak-anak  kita,  dengan  guru  itulah,  mereka  hidup dan berkembang.

    Sesuai  dengan  ketinggian  derajat  dan  martabat  guru,  tidak  heran  kalau  para  ulama  sangat  menghormati  guru-guru  mereka.  Cara  mereka  memperlihatkan  penghormatan terhadap gurunya antara lain sebagai berikut.
1.Mereka rendah hati terhadap gurunya, meskipun ilmu sudah lebih banyak ketimbang gurunya.
2.Mereka  menaati  setiap  arahan  serta  bimbingan  guru,  misalnya  seorang  pasien  yang  tidak  tahu  apa-apa  tentang  penyakitnya  dan  hanya  mengikut  arahan seorang dokter pakar yang mahir.
3.Mereka  juga  senantiasa  berkhidmat  untuk  guru-guru  mereka  dengan  mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Swt.
4.Mereka  memandang  guru  dengan  perasaan  penuh  hormat  dan  tazim (memuliakan)   serta   memercayai   kesempurnaan   ilmunya.   Ini   lebih   membantu pelajar untuk memperoleh manfaat dari apa yang disampaikan guru mereka.

    Berdasarkan  uraian  di  atas,  betapa  pentingnya  menghormati  guru.  Dengan  menghormati  guru,  kita  akan  mendapatkan  berbagai  keuntungan,  antara  lain  sebagai berikut.
1.Ilmu yang kita peroleh akan menjadi berkah dalam kehidupan kita.
2.Akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikannya.
3.Ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi manfaat bagi orang lain.
4.Akan selalu didoakan oleh guru.
5.Akan  membawa  berkah,  memudahkan  urusan,  dianugerahi  nikmat  yang  lebih dari Allah Swt.
6.Seorang  guru  tidak  selalu  di  atas  muridnya.  Ilmu  dan  kelebihan  itu  merupakan  anugerah  Allah  Swt.  akan  memberikan  anugerah-Nya  kepada  orang-orang yang dikehendaki-Nya.

C. Menerapkan Perilaku Mulia

Cara Berbakti kepada Orang Tua
    Ada banyak cara untuk berbakti kepada orang tua,  di antaranya adalah seperti berikut.
1. Berbakti dengan melaksanakan nasihat dan perintah yang baik dari keduanya.

2. Merawat dengan penuh keikhlasan dan kesabaran apalagi jika keduanya sudah tua dan pikun.

3. Merendahkan  diri,  kasih  sayang,  berkata  halus  dan  sopan,  serta  mendoakan  keduanya.

4. Rela berkorban untuk orang tuanya.
Rasulullah saw bersabda:
“Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya “Sesungguhnya aku mempunyai  harta  sedang  orang  tuaku  membutuhkannya.”  Nabi  menjawab:  “Engkau dan hartamu adalah milik orang tuamu karena sesungguhnya anak-anakmu  adalah  sebaik-baiknya  usahamu.  Karena  itu,  makanlah  dari  usaha  anak-anakmu itu.” (H.R Abu Daud dan Ibnu Majah)

5. Meminta kerelaan orang tua ketika akan berbuat sesuatu.

6. Berbuat baik kepada orang tua, walaupun ia berbuat aniaya. Maksudnya anak tidak boleh menyinggung perasaan orang tuanya walaupun ia telah menyakiti anaknya.  Jangan  sekali-kali  seorang  anak  berbuat  tidak  baik  atau  membalas  ketidakbaikan  keduanya.  Allah  Swt.  tidak  me-riḍai-nya  hingga  orang  tua  itu  me-riḍai-nya.

    Berbakti  kepada  orang  tua  tidak  hanya  kita  lakukan  ketika  orang  tua  masih  hidup. Berbakti kepada orang tua juga dapat kita lakukan meski orang tua telah meninggal.  Dalam  hadis  dijelaskan  bahwa:  “Kami  pernah  berada  pada  suatu  majelis bersama Nabi, seorang bertanya kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, apakah  ada  sisa  kebajikan  yang  dapat  aku  perbuat  setelah  kedua  orang  tuaku  meninggal  dunia?”  Rasulullah  bersabda:  “Ya,  ada  empat  hal:  mendoakan  dan  memintakan ampun untuk keduanya, menempati/melaksanakan janji keduanya, memuliakan  teman-teman  kedua  orang  tua,  dan  bersilaturrahmi  yang  engkau  tiada mendapatkan kasih sayang kecuali karena kedua orang tua.”

    Beberapa  hal  yang  dapat  kita  lakukan  untuk  berbakti  kepada  orang  tua  yang  telah meninggal adalah seperti berikut.
1. Merawat jenazah dengan cara memandikan, mengafankan, menyalatkan, dan menguburkannya.
2.Melaksanakan  wasiat  dan  menyelesaikan  hak  Adam  yang  ditinggalkannya  (utang atau perjanjian dengan orang lain yang masih hidup).
3. Menyambung tali silaturahmi kepada kerabat dan teman-teman dekatnya atau memuliakan teman-teman kedua orang tua.
4. Melanjutkan  cita-cita  luhur  yang  dirintisnya  atau  menepati  janji  kedua  ibu  bapak.
5. Mendoakan  ayah  ibu  yang  telah  tiada  dan  memintakan  ampun  kepada  Allah  Swt. dari segala dosa orang tua kita.

Cara Berbakti kepada Guru
    Banyak  cara  yang  dapat  dilakukan  seorang  siswa  dalam  rangka  berakhlak  terhadap guru, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Menghormati dan memuliakannya, mengikuti nasihatnya
2. Mengamalkan ilmunya dan membaginya kepada orang lain.
3. Tidak melawan, menipu, dan membuka rahasia guru.
4. Memuliakan keluarga dan sahabat karib guru.
5. Murid  harus  mengikuti  sifat  guru  yang  dikenal  baik  akhlak,  tinggi  ilmu  dan  keahlian, berwibawa, santun dan penyayang.
6. Murid harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya. Orang yang berhasil hingga menjadi ilmuwan besar, sama sekali tidak boleh berhenti menghormati guru.
7. Menghormati dan selalau mengenangnya, meskipun sudah wafat.
8. Bersikap sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha  untuk  memaafkan  perlakuan  kasar,  turut  mendoakan  keselamatan  guru.
9. Menunjukkan  rasa  berterima  kasih  terhadap  ajaran  guru.  Melalui  itulah  ia  mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari.
10. Sopan  ketika  berhadapan  dengan  guru,  misalnya;  duduk  dengan  tawadu’,  tenang,   diam,   posisi   duduk   sedapat   mungkin   berhadapan   dengan   guru,   menyimak perkataan guru sehingga tidak membuat guru mengulangi perkataan.
11. Tidak dibenarkan berpaling atau menoleh tanpa keperluan jelas, terutama saat guru berbicara kepadanya.
12. Berkomunikasi dengan guru secara santun dan lemah-lembut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi

PENILAIAN AKHIR SEMESTER KELAS 12 - SENI BUDAYA