Seni Budaya SMA Kelas 11 Semester 1

BAB 1: BERAPRESIASI SENI RUPA, SENI MUSIK, SENI TARI, SENI TEATER

    Apresiasi seni rupa adalah aktivitas mengindra karya seni rupa, merasakan, menikmati, menghayati dan menghargai nilai-nilai keindahan dalam karya seni serta menghormati keberagaman konsep dan variasi konvensi artistik eksistensi dunia seni rupa. Secara teoretik menurut Brent G. Wilson dalam bukunya Evaluation of Learning in Art Education; apresiasi seni memiliki tiga domain, yakni: perasaan (feeling), dalam konteks ini terkait dengan perasaan keindahan, penilaian (valuing) terkait dengan nilai seni, dan empati (emphatizing), terkait dengan sikap hormat kepada dunia seni rupa, termasuk kepada profesi seniman, yaitu perupa (pelukis, pematung, penggrafis, pengeramik, pendesain, pengriya, dan lain-lain). 
 
    Pengalaman personal mengamati karya seni dilakukan dengan melihat lukisan yang dipajang di depan kelas. Siswa diminta untuk mengamati yang dilanjutkan dengan menceritakan hasil pengindraan, respons pribadi, reaksi, analisis, penafsiran, serta evaluasinya secara lisan. Hasil pengamatan didiskusikan di kelas yang dipandu oleh guru yang berperan sebagai moderator. Kemudian, hasil notulis atau rekaman atas kemampuan berapresiasi seni rupa secara lisan dan hasil diskusi itu, disempurnakan oleh siswa dalam bentuk karya tulis dengan bahasa Indonesia yang sistematis, lugas dan komunikatif.


    Guru  bersama  dengan  para  siswa  mempersiapkan  dan  melaksanakan  aktivitas  berapresiasi karya  seni  rupa  murni  (seni  lukis)  sehingga  para  siswa  memiliki  sikap  merasakan  keindahan dan makna seni. Kemudian, menerapkan dan mengamalkan rasa keindahan itu dalam kehidupan kesehariannya.

A.  Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa, Seni Musik,Seni Tari, Seni Teater

    Pada hakikatnya semua manusia dianugerahi oleh Tuhan apa yang disebut “sense of beauty”, rasa  keindahan.  Meskipun  ukurannya  tidak  sama  pada  setiap  orang,  jelas  setiap  manusia  sadar atau  tidak  menerapkan  rasa  keindahan  ini  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Misalnya,  ketika  kita memantas  diri  dalam  berpakaian,  memilih  dasi,  memilih  sepatu,  dan  berdandan  (sekedar contoh).  Senantiasa  rasa  keindahan  berperan  memandu  perilaku  kita  untuk  memilih  apa  yang kita anggap menampilkan citra harmonis yang pada umumnya kita sebut tampan, gagah, cantik, ayu, rapi. Dalam bahasa sehari-hari, yaitu penggunaan kata “lain” menyebut fenomena keindahan.

    Demikian pula dalam melengkapi kebutuhan hidup, kita selalu dipandu oleh rasa keindahan. Katakanlah  dalam  menata  arsitektur  rumah  tinggal,  memilih  perabotan  rumah  tangga,  televisi, kulkas,  otomotif,  sampai  kepada  pembelian  piring,  sendok,  garpu,  dan  segala  macam  barang yang  kita  gunakan  di  kota.  Demikian  pula  pada  kehidupan  di  desa,  hampir  semua  benda  yang dibutuhkan  memiliki  kaitan  dengan  rasa  keindahan  dan  seni,  seperti  kain  tenun,  keris,  batik, ornamen,  busana,  keramik,  perhiasan,  alat  musik,  dan  banyak  lagi.

    Hal yang sama terdapat pula di daerah pedalaman, betapapun sederhana tingkat kehidupan manusia, dalam perlengkapan dan peralatan hidupnya, seperti busana, tata rias, motif ornamen, tari-tarian, musik, dan banyak sekali karya-karya seni etnik yang sangat indah dan mengagumkan. Dengan  uraian  ini,  menjadi  jelas  bahwa  seni  terdapat  di  mana-mana.  Itulah  sebabnya  kesenian secara  antropologis  ditempatkan  sebagai  unsur  kebudayaan  yang  universal,  sama  seperti  rasa keindahan  yang  juga  bersifat  universal.

    Tingkat  kepekaan  perasaan  keindahan  akan  berkembang  lewat  kegiatan  menerima  (sikap terbuka) kepada semua manifestasi seni rupa, mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya (seni lukis, seni patung, seni grafis, desain, dan kriya) menghargai aspek keindahan dan kegunaannya (desain  produk  atau  industri,  desain  interior,  desain  komunikasi  visual,  desain  tekstil,  dan berbagai  karya  kriya  (kriya  keramik,  tekstil,  kulit,  kayu,  logam  dan  lain-lain).  Melalui  proses penginderaan,  kita  mendapatkan  pengalaman  estetis.  Dari  proses  penghayatan  yang  intens,  kita akan mengamalkan rasa keindahan yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari.

    Kemampuan  mengamati  karya  seni  rupa  murni  dan  seni  rupa  terapan,  dalam  arti  praksis adalah  kemampuan  mengklasifikasi,  mendeskripsi,  menjelaskan,  menganalisis,  menafsirkan  dan mengevaluasi  serta  menyimpulkan  makna  karya  seni.  Aktivitas  ini  dapat  dilatih  sebagai kemampuan  apresiatif  secara  lisan  maupun  tulisan.

    Aktivitas  pendukung,  seperti  membaca  teori  seni,  termasuk sejarah  seni  dan  reputasi  seniman,  dialog  dengan  tokoh  seniman serta budayawan, merupakan pelengkap kemampuan berapresiasi, sehingga  para  siswa  dapat  menyertakan  argumentasi  yang  logis dalam  menyimpulkan  makna  seni.

    Secara  psikologis  pengalaman  pengindraan  karya  seni  itu berurutan  dari  sensasi  (reaksi  panca  indra  kita  mengamati  seni), emosi  (rasa  keindahan),  impresi  (kesan  pencerapan),  interpretasi (penafsiran  makna  seni),  apresiasi  (menerima  dan  menghargai makna  seni,  dan  evaluasi  (menyimpulkan  nilai  seni).  Aktivitas ini  berlangsung  ketika  seseorang  mengindra  karya  seni,  biasanya sensasi  tersebut  diikuti  dengan  aktivitas  berasosiasi,  melakukan komparasi,  analogi,  diferensiasi,  dan  sintesis.  Pada  umumnya karya seni yang dinilai baik akan memberikan kepuasan spiritual dan  intelektual  bagi  pengamatnya.

B.  Pengembangan Sikap Empati kepada Profesi Seniman dan Budayawan

    Apresiasi seni budaya, termasuk seni rupa, sebagai bagian dari estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas kemampuan mengapresiasi  keindahan  serta  harmoni  mencakup  apresiasi  dan ekspresi,  baik  dalam  kehidupan  individual  sehingga  mampu menikmati  dan  mensyukuri  hidup,  maupun  dalam  kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

    Pengenalan  tokoh-tokoh  seni  budaya,  reputasinya,  dan kontribusi  mereka  bagi  masyarakat  dan  bangsa,  atau  bagi kemanusiaan  pada  umumnya,  adalah  upaya  nyata  mengembangkan  perasaan  simpati,  yang  jika dilakukan berulang-ulang akan meningkat menjadi perasaan empati. Dengan demikian, peserta didik  menjadi  kagum  akan  prestasi  dan  jasa-jasa  para  seniman  atau  budayawan  berdasarkan kualitas  karya  seni  dan  pengakuan  serta  penghargaan  yang  diperolehnya,  baik  dalam  tingkat lokal,  nasional,  dan  internasional.

C.  Mengamalkan Perilaku Manusia Berbudaya dalam Kehidupan Bermasyarakat

    Sebelum  membahas  perilaku  manusia  berbudaya  dalam  kehidupan  bermasyarakat,  perlu dipahami  terlebih  dahulu  hakikat  dan  pengertian  kebudayaan.  Kata  budaya  berasal  dari  bahasa sansekerta, buddayah bentuk jamak dari kata budhi  yang  berarti  akal  dan  nalar.  Jadi  kata kebudayaan  dapat  diartikan  hal-hal  yang  berhubungan  dengan  budi,  akal,  dan  nalar.  Menurut Koentjaraningrat,  kebudayaan  berarti  keseluruhan  gagasan  dan  karya  manusia  yang  harus dibiasakannya  dengan  belajar,  beserta  keseluruhan  dari  hasil  budi  dan  karyanya  itu.

    Kebudayaan  memiliki  tiga  wujud,  (1)  kebudayaan  sebagai  konsep,  (2)  kebudayaan  sebagai aktivitas,  dan  (3)  kebudayaan  sebagai  artefak.  Dengan  klasifikasi  seperti  ini  seluruh  aktivitas interaksi  manusia  dengan  Tuhan,  interaksi  dengan  masyarakat,  dan  interaksi  dengan  alam, semuanya  adalah  kebudayaan.

    Kata budaya sering juga dipadankan dengan kata adab, yang menunjukkan unsur-unsur budi luhur  dan  indah.  Misalnya,  kesenian,  sopan  santun,  dan  ilmu  pengetahuan,  adalah  peradaban atau  kebudayaan.  Namun  menurut  Van  Peursen,  dewasa  ini filsafat  kebudayaan  modern  akan meninjau  kebudayaan  terutama  dari  sudut policy tertentu, sebagai satu strategi atau master plan  bagi  hari  depan.  Kebudayaan  diartikan  sebagai  manifestasi  kehidupan  setiap  orang  dan setiap  kelompok  orang.  Berlainan  dengan  hewan-hewan,  maka  manusia  tidak  hidup  begitu  saja ditengah-tengah  alam,  melainkan  selalu  mengubah  alam  itu.

    Dengan   mengenal,   memahami,   dan   menghargai   budayanya   sendiri,   orang   dapat mengembangkan  potensi  perilaku  yang  baik  bergaul  dengan  masyarakat  seni  dan  lingkungan sosial  sebagai  insan  yang  berbudaya.  Mengembangkan  sikap  ramah,  dan  rendah  hati  dalam berinteraksi  secara  efektif  dengan  para  seniman  dan  budayawan,  lingkungan  sosial  serta  dalam menempatkan  dirinya  sebagai  cerminan  bangsa  yang  berbudaya  dalam  pergaulan  dunia.

D.  Interaksi dan Komunikasi Efektif dengan Lingkungan Seni Budaya

    Dari  pengalaman  belajar  apresiasi  seni,  di  harapkan  berkembang  sikap  demokratis,  etis, toleransi,  dan  sikap  positif  lainnya.  Sikap  demokratis  misalnya  akan  tercermin  ketika  siswa mengacu kepada prinsip diferensiasi dan tidak diskriminatif. Hal ini akan terjadi bila ia memberi peluang yang sama kepada semua anggota panitia mengemukakan pendapat untuk menentukan, misalnya,  tema  pameran.  Contoh  sikap  demokratis  lain  adalah  perilaku  yang  tidak  bias  gender. Siswa  akan  memperlihatkan  penerapan  prinsip  kesetaraan  gender  sesama  teman  dan  pergaulan dengan  masyarakat  seni  dan  lingkungan  pergaulan  sosial  pada  umumnya.  Sikap  toleran  akan tercermin ketika siswa dapat menerima perbedaan pendapat dalam aktivitas mengapresiasi seni, karena  dari  kajian  yang  dilakukannya  dalam  menafsirkan  data  pengamatan  perbedaan  respons estetik  adalah  sesuatu  yang  wajar.  Sebab  dia  tahu  pada  dasarnya  seni  dapat  dipersepsikan secara  berbeda.  Sikap  etis  akan  tercermin  bila  siswa  dalam  kegiatan  diskusi  yang  hangat,  tidak mengucapkan  kata-kata  atau  menunjukkan  perilaku  yang  bernada  melecehkan,  menertawakan, merendahkan,  menghina,  atau  kata  lain  yang  setara  dengan  itu.

    Dari perolehan kehidupan berbudaya dalam proses pembelajaran di sekolah, dan dari interaksi siswa dengan dunia seni (kunjungan pameran, museum, galeri, sanggar, atau pergaulan langsung, misalnya, dalam kegiatan diskusi dalam kegiatan pameran di sekolah dan lain-lain). Diharapkan para  siswa  dapat  berinteraksi  dengan  santun  dan  efektif  dengan  lingkungan  masyarakat  yang lebih  luas,  termasuk  lingkungan  seni  budaya,  di  mana  ia  bermukim.

    Dengan sikap berbudaya seperti itu, maka para siswa dapat mengamalkan perilaku positif dan optimistik  dalam  berinteraksi  dengan  masyarakat  seni  rupa,  seni  pertunjukan,  dan  masyarakat dalam  konteks  lokal,  nasional,  dan  internasional.

E.  Rangkuman

    Apresiasi  seni  rupa  adalah  aktivitas  mengindra  karya  seni  rupa,  menghargai  nilai-nilai keindahan,  keberagaman,  dan  kaidah  artistik  eksistensi  karya  seni  rupa.  Sikap  apresiatif  ini terbentuk,  atas  kesadaran  akan  kontribusi  para  seniman  bagi  bangsa  dan  negara,  atau  bagi nilai-nilai  kemanusiaan  pada  umumnya.  Pengenalan  akan  tokoh-tokoh  budaya,  perupa  murni, pendesain, dan pengriya, dan reputasinya, adalah upaya nyata mengembangkan perasaan simpati, yang  jika  dilakukan  berulang-ulang  akan  meningkat  menjadi  perasaan  empati.


BAB 2: MENGANALISIS, KONSEP, UNSUR, PRINSIP, BAHAN DAN TEKNIK BERKARYA SENI RUPA DUA DIMENSI

    Pengertian  analisis  dalam  konteks  apresiasi  adalah  pengkajian  yang  cermat  terhadap  karya seni  rupa  untuk  mengetahui  keberadaan  karya  yang  sebenarnya.  Penelaahan  secara  mendalam dilakukan dengan cara menguraikan masalah pokok dengan bagian-bagian karya seni, termasuk hubungan antar bagian dengan keseluruhan, sehinggga kita memperoleh kesimpulan yang tepat ketika  mengkaji  karya  seni  rupa.

A.  Konsep

    Dalam  menganalisis  karya  seni  rupa  aspek  konsep  berkaitan  dengan  aktivitas  pengamatan karya  seni  untuk  menemukan  sumber  inspirasi,  interes  seni,  interes  bentuk,  penerapan  prinsip estetik,  dan  pengkajian  aspek  visual,  seperti  struktur  rupa,  komposisi,  dan  gaya  pribadi.

B.  Unsur

    Sementara, ketika menganalisis unsur rupa kita mengkaji kualitas penggunaan garis, warna, ruang,  tekstur  dan  penyajian  bentuk  dalam  karya  seni  rupa  murni,  desain  dan  kriya.

C.  Prinsip

    Selanjutnya  prinsip  estetik  kita  analisis  dengan  mengkaji  aspek:  1)  keselarasan  (harmony), 2) kesebandingan (proportion), 3) irama (rythme), 4) keseimbangan (balance), dan 5) penekanan (emphasis)  dalam  karya  seni  rupa.  Termasuk  kaitannya  dengan  prinsip  estetik  yang  dianut perupa,  misalnya  kita  perlu  menetapkan  apakah  perupa  menggunakan  pendekatan  estetika pramodern,  estetika  modern,  atau  estetika  posmodern.

D.  Bahan

    Gagasan seni memerlukan penggunaan bahan baku seni tertentu. Setiap bahan memerlukan pengolahan  dan  penggunaan  alat  dan  teknik  yang  sesuai  dan  serasi.  Misalnya  patung  yang dipersiapkan sebagai elemen estetik sebuah taman, tidak akan menggunakan bahan kayu dengan teknik  pahat,  tetapi  menggunakan  bahan  perunggu  dengan  teknik  cor,  karena  bahan  inilah yang  tahan  terhadap  perubahan  cuaca.

E.  Teknik

    Analisis  teknik  adalah  tahapan  penting  dalam  penilaian  seni,  karena  informasi  tersebut merupakan  bukti  proses  pembuatan  karya  seni  untuk  menafsirkan  nilainya.


BAB 3: MENGANALISIS JENIS, TEMA, FUNGSI, DAN NILAI ESTETIS KARYA SENI RUPA TIGA DIMENSI

A.  Jenis

    Pengklasifikasian  seni  rupa  dapat  dibuat  berdasarkan  jenisnya,  kita  mengenal  (1)  seni rupa  murni  seperti  lukisan,  patung  dan  grafis,  (2)  Seni  Rupa  terapan  seperti  desain  dan kriya.  Sedangkan  dari  segi  bentuk  dapat  dibedakan  menjadi  tiga  kategori;  (1)  seni  rupa  dua dimensi,  (2)  seni  rupa  tiga  dimensi,  (3)  seni  rupa  multi  dimensi  seperti  seni  rupa  pertunjukan (performance  art), environment  art, happening  art, video  art,  dan  banyak  lagi,  termasuk  seni-seni  yang  dikategorikan  menggunakan  media  baru.

B.  Tema

    Masalah pokok atau tema dikenal sebagai subject matter seni. Misalnya tema dapat bersumber dari  realitas  internal  dan  realitas  eksternal.  Realitas  internal  seperti  harapan,  cita-cita,  emosi, nalar,  intuisi,  gairah,  khayal,  kepribadian  seorang  perupa  ruang  diekspresikan  melalui  karya seni.  Sedangkan  realitas  eksternal  adalah  ekspresi  interaksi  perupa  dengan  kepercayaan  (tema religius:  lihat  gambar  1.1  halaman  1),  kemiskinan,  ketidak-adilan,  nasionalisme,  politik  (tema sosial),  hubungan  perupa  dengan  alam  (tema  lingkungan)  dan  lain  sebagainya.

C.  Fungsi

    Fungsi seni bagi perupa murni adalah media ekspresi, sementara bagi apresiator adalah sarana untuk  mendapatkan  pengalaman  estetis.  Fungsi  seni  bagi  perupa  terapan  adalah  menciptakan benda  fungsional  yang  estetis.  Sedangkan  bagi  masyarakat  berfungsi  memenuhi  kebutuhan benda  fungsional  yang  indah.

D.  Nilai Estetis

    Nilai  estetis  secara  teoretis  dibedakan  menjadi  (1)  objektif/intrinsik  dan  (2)  subjektif/ekstrinsik.  Nilai  objektif  khusus  mengkaji  gejala  visual  karya  seni.  Aktivitas  ini  mendasarkan kriteria  ekselensi  seni  pada  kualitas  integratif  tatanan  formal  karya  seni  yang  mengutamakan relasi  antar  unsur  visual  yang  terjalin  padu  dalam  sebuah  karya  seni  (pendekatan  formalis). Nilai  subjektif  menelusuri  nilai  estetis  dengan  menjawab  pertanyaan;  Apakah  lukisan  ini memukau  dan  hadir  dalam  kehidupan  pribadi  saya?  Efek  apakah  yang  diberikannya  pada saya?  Jika  demikian  sejauh  mana?  Pengalaman  mengamati  dan  menikmati  karya  seni  demikian biasanya  melukiskan  pengembaraan  imaji,  emosi,  suasana  kejiwaan  yang  hidup  dalam  diri pengamat  (pendekatan  impresionis).  Nilai  estetis  dikaji  berdasarkan  upaya  menelusuri  aspek sosial,  psikologis  dan  historis  karya  seni.  Pengkajian  dilakukan  dengan  mempelajari  asal-usul karya  seni  dan  pengaruh  yang  menimpanya  (pendekatan  kontekstualis).  Bila  seni  dipandang sebagai  sarana  memajukan  dan  mengembangkan  tujuan  moral,  agama,  politik  dan  lain-lain, maka  seni  adalah  alat  untuk  mencapai  tujuan  tertentu.  Nilai  seni  terletak  pada  manfaaat  dan kegunaannya  (pendekatan  instrumentalis).


BAB 4: BERKARYA SENI RUPADUA DIMENSI DENGAN MEMODIFIKASI OBJEK

A.  Pengertian Seni Rupa Dua Dimensi

    Seni  rupa  dua  dimensi  adalah  karya  yang  memiliki  dimensi  panjang  dan  dimensi  lebar. Keluasan  bidang  datar  dari  panjang  dan  lebar  itu  oleh  perupa  digunakan  untuk  membuat lukisan,  gambar,  desain  dan  karya-karya  grafis  yang  hanya  dapat  diamati  secara  sempurna  dari arah  depan.  Sedangkan  untuk  memberi  kesan  jauh  dekat,  besar  kecil,  atau  panjang  pendek, dibuat  dengan  pertimbangan  perspektif.

B.  Tujuan Penciptaan

    Penciptaan  desain  batik,  karya  desain  dua  dimensi,  sebagai  aktivitas  perancangan  reka bentuk,  letak,  warna,  dibuat  untuk  memenuhi  kebutuhan  masyarakat  akan  benda  tekstil  yang indah  dan  fungsional.

C.  Proses Kreatif

Untuk  itu,  kita  sebagai  pendesain  perlu  mengikuti  tahapan  proses  kreatif  sebagai  berikut.

1. Tahap Persiapan

    Sekarang,  mari  kita  membaca  teks  tentang  awan  dan  desain  batik  dari  berbagai  sumber belajar,  dan  mengamati  bentuk  awan  pada  Gambar  4.1  (dari  kliping  gambar  awan  dan desain  batik  yang  telah  kita  buat).  Misalnya,  kita  amati  gambar  awan  mendung  (Gambar 4.1)  dengan  secermat  mungkin.  Perhatikan  wujud  awan,  baik  bentuk,  warna,  maupun kombinasinya.  Bandingkan  dengan  motif  batik  Mega  Mendung  (Gambar  4.2).  Amati  dan pahamilah  bahwa  perubahan  wujud  itu  adalah  kerja  memodifikasi  fenomena  alam  menjadi desain  batik  yang  indah.

    Sekarang kita coba membuat sketsa pola bentuk sebagaimana aslinya. Kemudian, tanyakan apakah ide dasar bentuk desain ini? Menggunakan bahan dan peralatan apa? Bagaimanakah teknik  penggambaran  bentuk  atau  teknik  pewarnaannya?  Atas  dasar  itu,  kembangkan imajinasi  kita  untuk  menafsirkan  apa  gerangan  makna  batik  ini?  Selanjutnya,  kita  coba bereksperimen  mereka-reka  motif  batik  baru  dengan  jalan  memodifikasi  (memindahkan, membalik, memiringkan, mengubah ukuran, memutar, menghapus, menggabung, memecah, mendistorsi)  motif  tersebut  dengan  tujuan  untuk  menghasilkan  desain  yang  lebih  artistik, estetis  dan  fungsional.  Jadi  hendaknya  jangan  sampai  desain  batik  yang  kita  buat  lebih  jelek dari pada desain motif aslinya. Lebih artistik berarti lebih menonjolkan kadar seninya. Lebih estetis  artinya  lebih  indah  dari  motif  yang  telah  ada.  Sedangkan  lebih  fungsional  berarti motif  atau  corak  dalam  pemanfaatannya  di  tengah  masyarakat  lebih  terkonsep.  Motif  itu diciptakan  untuk  pakaian  formal,  pakaian  santai,  pakaian  malam  dan  lain  sebagainya

2. Tahap Elaborasi

    Tahap   Elaborasi   adalah   tahap   ketika   kita   menghadapi   situasi   yang   sulit,   yaitu mengomunikasikan  dan  mentransformasikan  pengalaman  yang  implisit  ke  dalam  bentuk yang  eksplisit.  Dengan  demikian,  diperlukan  keterampilan  ekstra  untuk  memvisualisasikan unsur-unsur  subjektif  gagasan  desain  menjadi  bentuk  objektif  karya  desain  yang  diciptakan. Selanjutnya,  berdasarkan  sketsa  awal  (tahap  persiapan)  kita  kembangkan  dengan  membuat sketsa-sketsa  alternatif  sebagai  karya  eksplorasi  (minimal  3  karya  sketsa).

3. Tahap Illuminasi

    Tahap Iluminasi adalah tahap ketika kita menemukan inspirasi baru dari aktivitas kedua tahap sebelumnya. Ini adalah hasil perpaduan antara kekuatan intelektual, intuisi, dan kepekaan batin  dalam  mewujudkan  desain  batik  baru  dan  inovatif.  Proses  kreasi  memodifikasi  ini datang  bagaikan  cahaya  yang  tiba-tiba  (sering  disebut  ilham)  yang  memberikan  pencerahan pemahaman  atau  pengertian  atas  desain  batik  yang  diciptakan.  Kemudian,  pilihlah  satu sketsa  yang  terbaik,  kerjakan  di  atas  kertas  gambar  menggunakan  pensil  (sketsa)  dan  cat air  atau  akrilik.  Kamu  juga  dapat  menggunakan  bahan  lain  yang  tersedia  di  lingkungan belajar  atau  lingkungan  tempat  tinggalmu.

4. Tahap Verifikasi

    Tahap  Verifikasi  yakni  pengujian  proses  penjabaran  ide  desain  menjadi  karya  desain secara terperinci. Kita bekerja berdasarkan rujukan-rujukan pendapat pakar, petikan-petikan teks  dari  para  ahli  yang  kita  baca,  atau  referensi  motif  batik  yang  kita  kliping  dan  amati. Perhatikan  desain  batik  hasil  modifikasi  pada  Gambar  4.1,  4.2  dan  Gambar  4.3  pada  buku ini.  Semua  aktivitas  ini  adalah  pengalaman  kreatif  yang  mengasyikkan  dan  mengesankan. Jelasnya: Kita menguji dan meninjau kembali apakah penciptaan desain dengan memodifikasi motif  tertentu  itu  (atau  motif  lain  yang  kita  pilih)  sangat  memuaskan,  memuaskan,  atau kurang  memuaskan.  Inilah  kriteria  yang  menunjukkan  apakah  kita  berhasil  atau  kurang berhasil  sebagai  pendesain  yang  handal.


BAB 5: BERKARYA SENI RUPATIGA DIMENSI DENGAN MEMODIFIKASI OBJEK

A.  Pengertian Seni Rupa Tiga Dimensi

    Seni  rupa  tiga  dimensi  adalah  karya  yang  memiliki  dimensi  panjang,  dimensi  lebar  dan dimensi  tinggi.  Misalnya,  patung,  relief,  keramik,  wayang  golek  yang  bebas  mengisi  ruang, sehingga dapat diamati secara sempurna dari berbagai arah (berkeliling, 360°). Meskipun banyak juga karya-karya yang tidak memperhitungkan daya pandang demikian, misalnya patung-patung yang  sifatnya  frontal  (hanya  bagus  dilihat  dari  arah  depan)  saja.

B.  Fungsi Seni Rupa Tiga Dimensi

    Karya  seni  rupa  tiga  dimensi  pada  umumnya  diciptakan  untuk  memenuhi  kebutuhan masyarakat  akan  karya-karya  seni  rupa  murni  (patung,  relief,  monumen)  serta  seni  rupa terapan  (desain  dan  kriya)  seperti  desain  industri,  desain  interior,  kriya  rotan,  kriya  logam, kriya  kayu  dan  lain  sebagainya.

C.  Memodifikasi Objek

    Berkarya  dengan  memodifikasi  objek  berarti  mencipta  berdasarkan  bentuk  objek  tertentu, baik  yang  sifatnya  objek  alamiah  (ciptaan  Tuhan)  maupun  yang  sifatnya  objek  buatan  (ciptaan manusia),  baik  objek  makhluk  hidup  maupun  objek  benda  mati.  Seperti  telah  dikemukakan sebelumnya,  di  sini  memodifikasi  berarti  (memindahkan,  membalik,  memiringkan,  mengubah ukuran,  memutar,  menghapus,  menggabung,  memecah,  mendistorsi,  menyederhanakan)  dan lain  sebagainya.

    Sekarang,  mari  kita  amati  Gambar  5.1.  Catat  dan  perhatikan  dengan  saksama  bentuk figur.  Kemudian,  kita  tanyakan  apakah  bentuknya figuratif?  Semi figuratif  atau  nonfiguratif? Bagaimanakah perwujudan patung? Apakah vertikal atau horisontal? Lalu penggambaran sosok patung; Apakah berdiri, duduk, jongkok? Perhatikan bagaimana bentuk tangan menyatu dengan tubuh,  karena  pematung  berkarya  dengan  menggunakan  bahan  baku  kayu  yang  bentuknya memanjang,  sehingga  posisi  tangan  harus  mengikuti  bahan  baku  patung.  Selanjutnya  coba cermati  kostum  atau  atribut  yang  dikenakan  patung:  Apakah  hal-hal  itu  mengandung  makna melambangkan sesuatu? Cobalah tafsirkan secara logis dan argumentatif. Jika demikian, apakah gagasan  penciptaan  patung?  Untuk  apa  patung  dibuat?  Dan  menggunakan  teknik  apa?  Patung yang  manakah  yang  paling  artistik  dan  indah?  Dan  mengapa?  Apakah  patung-patung  ini termasuk  primitif,  modern,  atau  posmodern?



BAB 6: BEREKSPRESI DALAM SENI RUPA

    Pelaksanaan  aktivitas  kreasi  seni  lukis  adalah  kegiatan  merealisasikan  konsep  seni  sebagai ekspresi.  Konsep  yang  mendasarkan  sumber  inspirasi  seni  dipetik  dari  kehidupan  psikologis pelaku  kreatif.  Jenis  seni  ini  lebih  bersifat  subjektif,  namun  sangat  penting  dalam  membentuk keseimbangan  antara  kehidupan  rohani  dan  jasmani  seseorang  (katarsis).

A.  Berekspresi

    Proses  kreatif  berekspresi  ini  antara  lain,  memerlukan  persiapan:  kanvas  ukuran  60  x  60 cm,  palet,  cat  minyak  atau  cat acrylic,  kuas,  cucian  kuas,  kain  lap,  dan  perlengkapan  lain  yang dipandang  perlu.

1. Mengamati

    Siswa  melaksanakan  pengamatan  terhadap  realitas  internal  kehidupan  spiritualnya. Misalnya,  memusatkan  perhatian  pada  kehidupan  rohaninya,  mungkin  hal  itu  berkenaan dengan  cita-cita,  emosi,  nalar,  intuisi,  gairah,  kepribadian  dan  pengalaman-pengalaman kejiwaan  lain  yang  sekarang,  saat  ini,  dialami.

2. Menanyakan

    Tanyakan  kepada  diri  sendiri,  gejala  kejiwaan  mana  yang  paling  menjadi  masalah,  yang paling  penting  untuk  diekspresikan  lewat  kegiatan  penciptaan  lukisan.  Dengan  demikian, kehidupan  batin  kita  menjadi  lebih  tenang,  sehat,  dan  seimbang.  Kemudian,  tetapkanlah  itu sebagai sumber inspirasi atau gagasan kreativitas kamu (penentuan subject matter atau tema).

3. Mencoba

    Cobalah  mereka-reka  wujud  visual  gagasan  tersebut  dalam  imajinasimu,  lalu  buatlah sketsa-sketsa  alternatif  bagaimana  rupa  karya  lukisan  yang  kamu  inginkan,  apakah figuratif menyerupai  bentuk-bentuk  alamiah,  semi figuratif  karena  telah  mengalami  distorsi  dari bentuk  alamiahnya.  Nonfiguratif  yang  sama  sekali  tidak  melukiskan  gejala  alamiah  lagi, melainkan bentuk-bentuk abstrak. Tidak ada batasan yang perlu mengekang kebebasan kreatif kamu  dalam  memilih  gambaran  wujud  lukisan.  Batasannya  adalah  pencapaian  kepuasan berekspresi,  sama  dengan  terealisasinya  gagasan  menjadi  lukisan.

4. Menalar

    Dari  sejumlah  sketsa  yang  telah  kamu  buat  itu,  analisis  kekuatan  dan  kelemahan  setiap sketsa. Baik dari aspek konseptual, visual, dan kemungkinan penggunaan media (bahan baku seni)  teknik  berkarya  yang  sesuai,  dan  tetapkan  salah  satu  sketsa  yang  paling  representatif memenuhi  harapan  kamu.  Kemudian,  berekspresilah  dengan  penuh  rasa  percaya  diri.  Tolok ukur  lukisan  telah  selesai  atau  belum  adalah  kepuasan  yang  kamu  alami.  Jika  rasa  puas  itu telah  hadir,  kepuasan  mempersepsi  wujud  lukisan  yang  diciptakan,  maka  lukisan  itu  dapat dibubuhi  dengan  tanda  tangan  atau  inisial  kamu.  Sebagai  bukti  kamulah  penciptanya,  dan kamu  bertanggung  jawab  penuh  atas  ciptaan  tersebut.

5. Menyajikan

    Pengertian  penyajian  sebuah  lukisan,  tidak  sama  dengan  penyajian  makalah  dalam kegiatan  diskusi.  Jadi,  dalam  konteks  ini  siswa  mengerjakan  pemberian  bingkai  yang  sesuai dengan  ukuran,  warna,  maupun  kesesuaian  dengan  aliran  lukisan.  Selanjutnya,  menulis ringkasan  konsep,  deskripsi  visual,  pembuatan  label  (judul,  tahun  penciptaan,  media  yang digunakan,  ukuran,  dan  nama  pencipta,  serta  foto  karya  lukisan).  Semua  keterangan  ini diprint  dan  dilekatkan  di  bagian  belakang  lukisan.  Lukisan  itu  dikatakan  “siap  dipamerkan”. Kemudian, lukisan tersebut untuk sementara akan di simpan di ruang koleksi. Penyajian seni lukis  yang  sesungguhnya  akan  diselenggarakan  dalam  bentuk  pameran  awal  tahun  berjalan. Pameran  diselenggarakan  dengan  pembentukan  panitia  pameran  yang  bekerja-sama  dengan pihak-pihak  lain,  misalnya  galeri,  kurator,  sponsor,  donatur,  pers,  dan  lain-lain.  Penyajian lukisan  akan  dibahas  secara  tersendiri  dalam  bab  Pameran  Seni  Rupa.

B.  Rangkuman

    Berekspresi adalah salah satu kebutuhan hidup manusia. Realitas internal kehidupan spiritual siswa  membutuhkan  penyaluran,  agar  dapat  mencapai  keseimbangan  kehidupan  rohaniah yang  sehat.  Proses  mengamati,  menanyakan,  mencoba,  menalar,  dan  menyaji  adalah  aktivitas proses  kreasi  yang  lebih  bersifat  objektif,  dengan  memadukan  realitas  internal  yang  subjektif melalui  pendekatan  objektif.  Siswa  diharapkan  mendapatkan  pengalaman  yang  berharga,  yakni keharmonisan antar kehidupan batiniah dan kehidupan lahiriah. Dari proses kegiatan berekspresi ini,  potensi  artistik  para  siswa  akan  berkembang.  Karya-karya  siswa  adalah  objek-objek realtentang  apa  yang  mereka  harapkan,  inginkan,  dan  sudah  pasti  merupakan  dokumen  penting bagi  kehidupan  psikologis  mereka.


BAB 7: BEREKSPERIMEN DALAM SENI RUPA

    Aktivitas  penciptaan  seni  rupa  (murni,  desain,  dan  kriya)  yang  mementingkan  kreativitas, sangat memerlukan keberanian bereksperimen. Ada perupa yang bereksperimen dalam penyajian bentuk  seni  (menciptakan  bentuk  baru),  sementara  perupa  lain  bereksperimen  dalam  memilih dan  mengkombinasikan  aspek  konseptual  penciptaan  seni.  Ada  pula  perupa  yang  melakukan eksperimen dengan memodifikasi konvensi seni, desain, dan kriya dan yang terakhir ada perupa yang  benar-benar  bereksperimen  menciptakan  karya  seni  yang  benar-benar  baru.

    Dalam konteks proses kreatif, Guilford dalam Semiawan, Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu menyebutkan;  sifat fluensi, fleksibilitas,  orisinalitas,  elaborasi,  dan  redefinisi  adalah  kemampuan yang perlu dikembangkan melalui aktivitas eksperimen. Fluensi terkait langsung dengan kesigapan, kelancaran, dan kemampuan melahirkan banyak gagasan. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam memecahkan masalah. Sedangkan orisinalitas adalah kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan asli. Redefinisi adalah kemampuan merumuskan batasan-batasan dari sudut pandang lain dari pada cara-cara yang sudah lazim. Misalnya lukisan secara  konvensional  didefinisikan  sebaga  karya  seni  dua  dimensional.  Batasan  ini  dianggap oleh  sebagian  pelukis  kreatif  mengekang  kreativitas  dengan  sengaja  mereka  membuat  lukisan dalam  wujud  tiga  dimensional  (bentuk  piramid  tiga  dimensi).  Ini  adalah  redefinisi  bentuk  seni.


A.  Seni Rupa Murni

    Penciptaan  seni  rupa  murni  merupakan  kegiatan  berkarya  seperti:  seni  lukis,  seni  patung, seni  grafis,  seni  serat,  dan  lain-lain.  Itu  dilakukan  untuk  mengungkapkan  pikiran,  perasaan, dan  pengalaman  kehidupan  menjadi  perwujudan  visual  dilandasi  kepekaan  artistik.  Kepekaan artistik  mengandung  arti,  memerlukan  kemampuan  mengelola  atau  mengorganisir  elemen-elemen  visual  untuk  mewujudkan  gagasan  menjadi  karya  nyata.

1. Aspek  Konseptual

a. Penemuan  Sumber  Inspirasi
    Titik  tolak  penciptaan  karya  seni  rupa  murni  adalah  penemuan  gagasan.  Kita  harus memiliki  gagasan  yang  jelas  dalam  mengekspresikan  pengalaman  artistik.  Sumbernya;
1)   berasal dari realitas internal, perambahan kehidupan spiritual (psikologis) kita sendiri. Misalnya harapan, cita-cita, emosi, nalar, intuisi, gairah, kepribadian dan pengalaman-pengalaman  kejiwaan  lain  yang  kadangkala  belum  teridentifikasi  dengan  bahasa. Dengan  kata  lain,  gagasan  seni  timbul  dari  kebutuhan  kita  sebagai  manusia  untuk berekspresi.
2)   berasal  dari  realitas  eksternal,  yaitu  hubungan  pribadi  kita  dengan  Tuhan  (tema religius),  hubungan  pribadi  kita  dengan  sesama  (tema  sosial:  keadilan,  kemiskinan, nasionalisme),  hubungan  pribadi  kita  dengan  alam  (tema:  lingkungan,  keindahan alam)  dan  lain  sebagainya.

b.   Penetapan  Interes  Seni
    Dalam aktivitas penciptaan kita harus dapat menentukan interes seni kita sendiri, sehingga dapat  berkreasi  secara  optimal.  Pada  dasarnya  terdapat  tiga  interes  seni:
1)   interes  pragmatis,  menempatkan  seni  sebagai  instrumen  pencapaian  tujuan  tertentu. Misalnya,  tujuan  nasional,  moral,  politik,  dakwah,  dan  lain-lain;
2)   interes  reflektif,  menempatkan  seni  sebagai  pencerminan  realitas  aktual  (fakta  dan kenyataan  kehidupan)  dan  realitas  khayali  (realitas  yang  kita  bayangkan  sebagai sesuatu  yang  ideal);  dan
3)   interes estetis, berupaya melepaskan seni dari nilai-nilai pragmatis dan instrumentalis. Jadi, interes estetis mengeksplorasi nilai-nilai estetik secara mandiri (seni untuk seni). Dengan menetapkan interes seni, kita akan lebih memahami tujuan kita menciptakan karya.

c. Penetapan  Interes  Bentuk
    Untuk mengekspresikan penghayatan nilai-nilai internal atau eksternal dengan tuntas, kita perlu mempertimbangkan kecenderungan umum minat dan selera seni kita sendiri. Misalnya, kita  dapat  mencermati  karya-karya  yang  telah  kita  buat  selama  studi.  Kecenderungan  yang dapat  kita  pilih  yaitu:
1)   bentuk figuratif,  yakni  karya  seni  rupa  yang  menggambarkan figur  yang  kita  kenal sebagai  objek-objek  alami,  manusia,  hewan,  tumbuhan,  gunung,  laut  dan  lain-lain yang  digambarkan  dengan  cara  meniru  rupa  dan  warna  benda-benda  tersebut.
2)   bentuk  semi  figuratif,  yakni  karya  seni  rupa  yang  “setengah  figuratif ”,  masih menggambarkan figur  atau  kenyataan  alamiah,  tetapi  bentuk  dan  warnanya  telah mengalami  distorsi,  deformasi,  stilasi,  oleh  perupa.  Jadi  bentuk  tidak  meniru  rupa sesungguhnya, tetapi dirubah untuk kepentingan pemaknaan, misalnya, bentuk tubuh manusia  diperpanjang,  atau  patung  dewa  yang  bertangan  banyak,  bentuk  gunung atau  arsitektur  yang  disederhanakan  atau  digayakan  untuk  mencapai  efek  estetis  dan artistik.
3)   bentuk   nonfiguratif,   adalah   karya-karya   seni   rupa   yang   sama   sekali   tidak menggambarkan bentuk-bentuk alamiah. Jadi, tanpa figur atau tanpa objek (karenanya disebut pula seni rupa nonobjektif ). Karya seni rupa nonfiguratif merupakan susunan unsur-unsur visual yang ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan satu karya yang indah.  Istilah  lain  menyebut  karya  seni  rupa  nonfiguratif  adalah  karya  seni  abstrak. Pada  umumya  karya  abstrak  yang  berhasil  adalah  karya  yang  memiliki  “bentuk bermakna”.  Artinya,  sebuah  karya  seni  yang  memiliki  kapasitas  membangkitkan pengalaman  estetis  bagi  orang  yang  mengamatinya.  Dengan  kata  lain  karya  seni yang  dapat  membangkitkan  perasaan  yang  menyenangkan,  yaitu  rasa  keindahan.

d.   Penetapan  Prinsip  estetik
    Pada  umumnya  karya  seni  rupa  murni  menganut  prinsip  estetika  tertentu.  Kita  harus dapat  mengidentifikasi  cita  rasa  keindahan  yang  melekat  pada  karya-karya  yang  pernah kita  ciptakan.  Pada  tahap  ini,  kita  perlu  menetapkan  prinsip  estetika  yang  paling  sesuai untuk  mengungkapkan  pengalaman  kita.  Alternatif  prinsip  estetika  yang  dapat  dipilih  yaitu:
1)   pramodern,  prinsip  estetika  yang  memandang  seni  sebagai  aktivitas  merepresentasi bentuk-bentuk  alam,  atau  aktivitas  pelestarian  kaidah  estetik  tradisional;
2)   modern,  prinsip  estetika  yang  memandang  seni  sebagai  aktivitas  kreatif,  yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan gaya pribadi atau personalitas; dan
3)   posmodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas permainan tanda yang hiperriil  dan ironik,  sifatnya  eklektik  (meminjam  dan  memadu  gaya  seni  lama) dan  menyajikannya  sebagai  pencerminan  budaya  konsumerisme  masa  kini.

2. Aspek  Visual

a.   Struktur  Visual.  Mewujudkan  aspek  konseptual  menjadi  karya  visual,  perlu  ditegaskan lebih  spesifik  dalam subject  matter,  masalah  pokok  atau  tema  seni  yang  akan  diciptakan. Misalnya  tema  sosial:  kemiskinan,  dengan  pilihan  objek pengemis.  Tema  perjuangan: dengan  pilihan  objek Pangeran  Diponegoro,  tema  religius:  lukisan  kaligrafi  dengan  objek ayat  tertentu,  dan  lain  sebagainya.  Objek-objek  tersebut  dapat  divisualisasikan  dengan berbagai  cara,  pilihlah  unsur-unsur  rupa  (garis,  warna,  tekstur,  bidang,  volume,  ruang), sesuai  dengan  kebutuhan  interes  seni,  interes  bentuk,  dan  prinsip  estetika  yang  telah ditetapkan  dalam  aspek  konseptual.

b.   Komposisi. Hasil seleksi unsur-unsur rupa dikelola, ditata, dengan prinsip-prinsip tertentu, baik  terhadap  setiap  unsur  secara  tersendiri  maupun  dalam  hubungannya  dengan  bentuk atau  warna.  Dengan  memperhatikan  empat  prinsip  pokok  komposisi,  yaitu:  proporsi, keseimbangan, irama, dan kesatuan untuk memperlihatkan karakteristik keunikan pribadi kita.

c.   Gaya pribadi, sering disebut gaya perseorangan, ciri khas, kepribadian, sebagai faktor bawaan yang  menandai  sifat  unik  karya  yang  diciptakan  seorang  perupa.

3. Aspek  Operasional

    Langkah-langkah  kerja  dalam  keseluruhan  proses  perwujudan  karya  dimulai  dari penetapan bahan, peralatan utama dan pendukung, serta teknik-teknik dalam memperlakukan bahan  dengan  peralatannya.  Seluruh  proses  dikelompokkan  ke  dalam  tiga  tahap:
a.   Tahap  persiapan,  berkenaan  dengan  pengadaan  dan  pengolahan  bahan  utama,  bahan pendukung,  dan  pengadaan  peralatan.
b.   Tahap  Pelaksanaan,  berkenaan  dengan  pengalaman  artistik,  aktivitas  proses  kreasi  dari awal  hingga  selesai.
c.   Tahap  akhir,  karya  seni  rupa  yang  sudah  diciptakan,  masih  membutuhkan  tindakan-tindakan  khusus  supaya  siap  dipamerkan.  Jenis  karya  seni  rupa  tertentu  memerlukan pembersihan  menyeluruh,  lapisan  pengawet  (coating),  atau  lembaran  kaca  dan  bingkai. Jenis  lain  membutuhkan  kemasan.  Semuanya  harus  digarap  dengan  baik,  sampai  sebuah karya  seni  rupa  dikatakan  siap  pamer.

B.  Pengertian Seni Lukis

    Penciptaan sebuah karya seni lukis, menuntut pengetahuan dan spesialisasi bidang keahlian, karena itu diperlukan pengetahuan dasar seni lukis sebagai fondasi proses kreatif yang dilakukan.

1. Ruang  lingkup  seni  lukis

    Sebenarnya  banyak  pengertian  seni  lukis  yang  didefinisikan  oleh  para  pakar  seni,  namun pada  umumnya  tidak  ada  satupun  definisi  yang  dapat  memuaskan  semua  orang.  Sesungguhnya seni  lukis  itu  beragam  dan  memiliki  banyak  aliran.  Satu  sama  lain  di  samping  mempunyai persamaan,  juga  tidak  jarang  saling  bertentangan  secara  diametral.  Dari  sekian  banyak  definisi itu, dipilih satu definisi sebagai bekal dasar yang cukup relevan memahami pengertian seni lukis.

    Secara  teknis  lukisan  adalah  pembubuhan  pigmen  atau  warna  dengan  bahan  pelarut  di atas  permukaan  bidang  dasar,  seperti  pada  kanvas,  panel  untuk  menghasilkan  sensasi  atau  ilusi ruang,  gerakan,  tekstur,  untuk  mengekspresikan  berbagai  makna  atau  nilai  subjektif,  baik  yang sifatnya  intelektual,  emosi,  simbolik,  relegius,  dan  lain-lain.

    Herbert  Read  mengatakan,  seni  lukis  adalah  penggunaan  garis,  warna,  tekstur,  ruang  dan bentuk  pada  suatu  permukaan  yang  bertujuan  untuk  menciptakan  berbagai image. Image-imagetersebut  bisa  merupakan  pengekspresian  ide-ide,  emosi,  dan  pengalaman-pengalaman,  yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mencapai harmoni. Adapun pengalaman yang diekspresikan itu  adalah  pengalaman  yang  berisi  keindahan  atau  pengalaman  estetik.

    Menurut  Edmund  Burke  Feldman  pengekspresian  itu  menggunakan:
a. Unsur-unsur visual, yang terdiri dari garis, warna, bentuk, tekstur dan ruang atau gelap terang.
b. Organisasi  dari  unsur-unsur  tersebut,  yang  meliputi  kesatuan,  keseimbangan,  irama  dan perbandingan  ukuran.

    Dari sisi lain, kritikus seni rupa Dan Suwaryono mengemukakan bahwa seni lukis memiliki dua  faktor.
a. Faktor Ideoplastis: ide, pendapat, pengalaman, emosi, fantasi, dan lain-lain. Faktor ini lebih bersifat  rohaniah  yang  mendasari  penciptaan  seni  lukis.
b. Faktor  Fisioplastis:  yang  meliputi  hal-hal  yang  menyangkut  masalah  teknis,  termasuk organisasi  elemen-elemen  visual  seperti  garis,  warna  tekstur,  ruang,  bentuk  (shape)  dengan prinsip-prinsipnya. Dengan demikian, faktor ini lebih bersifat fisik dalam arti seni lukisnya itu  sendiri.

    Seni  lukis  adalah  wujud  ekspresi  yang  harus  dipandang  secara  utuh.  Keutuhan  wujud  itu, terdiri  dari  ide  dan  organisasi  elemen-elemen  visual.  Elemen-elemen  visual  tersebut  disusun sedemikian  rupa  oleh  seorang  pelukis  dalam  bidang  dua  dimensional.  Pengertian  seni  lukis sesungguhnya  mencakup  ruang  lingkup  yang  lebih  luas  dari  sebuah  definisi,  karena  seni  lukisjuga  mengenal  istilah  lukisan  dinding,  lukisan  miniatur,  lukisan pottery,  lukisan  manuskrip, lukisan  jambangan,  lukisan  mosaik,  lukisan  potret,  dan  lukisan  kaca.  Lukisan enamel,  lukisan teknologis  yang  dibuat  dengan  menggunakan  media  elektronik,  seperti  komputer.
 

2. Unsur  Visual

a. Garis
    Titik  tunggal  dalam  ukuran  kecil  memiliki  tenaga  yang  cukup  untuk  merangsang  mata kita  dan  dapat  berperan  sebagai awalan.  Apabila  titik  digerakkan  maka  dimensi  panjangnya akan  tampak  menonjol  dan  sosok  yang  ditimbulkannya  disebut  `garis’.  Garis  dapat  berupa goresan  yang  kita  buat  di  atas  sebuah  bidang,  tetapi  garis  dapat  pula  mewakili  bekas  roda, tiang  bambu,  kawat,  pancaran  cahaya,  ruang  antara  dua  bangunan  atau  dinding,  jalan  yang melintasi  kota,  sungai,  kontur  tanah  yang  berkelok-kelok,  kontur  pegunungan,  bangunan, batas  dinding  dengan  lantai,  dan  seterusnya.

    Garis  dapat  memberikan  kesan  gerak,  ide,  atau  simbol.  Pada  karya  seni  lukis  garis dapat  mengekspresikan  suasana  emosi  tertentu,  seperti  perasaan  bahagia,  sedih,  marah, teratur,  kacau,  bingung,  dan  lain  sebagainya.  Secara fisik  garis  dapat  dibuat  tebal,  tipis, kasar,  halus,  lurus,  lengkung,  berombak,  memanjang,  pendek,  putus-putus,  patah-patah dan  banyak  lagi.  Unsur  garis  juga  dapat  membangun  asosiasi  kita  kepada  kesan  tertentu, misalnya  garis  horisontal  kesannya  tenang,  tidak  bergerak,  diam,  dan  lebar.  Sementara  garis vertikal  kesannya  agung,  stabil,  tinggi,  sedangkan  garis  diagonal  kesannya,  jatuh,  bergerak.

    Garis  adalah  salah  satu  elemen  yang  penting  dalam  seni  lukis.  Pedoman  seni  yang penting  dan  ampuh  sebagaimana  juga  yang  terdapat  dalam  hidup,  adalah  makin  nyata, tajam  dan  kuat  garisnya,  makin  sempurna  hasil  seninya.  Garis  dapat  diciptakan  melalui
1)   kontur,  garis  paling  luar  dari  benda  yang  dilukis;
2)   batas  pemisah  antara  dua  warna  atau  cahaya  terang  dan  gelap;
3)   lekukan  pada  bidang  melingkar  atau  memanjang  lurus;  dan
4)   batas  antara  dua  tekstur  yang  berlainan. 

b.   Warna
    Secara fisika warna ditimbulkan oleh sinar matahari. Apabila kita sorotkan sinar matahari ke sebuah kaca prisma, maka sinar tersebut akan terurai menjadi beberapa sinar warna yang disebut  spektrum  warna.  Setiap  spektrum  mempunyai  kekuatan  gelombang  yang  kemudian sampai  pada  mata  kita,  sehingga  kita  dapat  melihat  warna  tertentu.

    Pada  alam  terdapat  dua  jenis  penerima  cahaya,  yakni  sebagai  pemantul  dan  sebagai penyerap cahaya. Secara fisiologi stimulasi cahaya memantulkan warna suatu objek sehingga merangsang mekanisme mata kita. Kemudian, rangsangan tersebut disalurkan melalui syaraf optik  ke  otak,  sehingga  kita  dapat  mengenali  warna  itu.  Secara  psikologis  telah  terbukti bahwa  warna  dapat  memengaruhi  kegiatan fisik  maupun  mental  kita.  Reaksi  kita  terhadap warna  bersifat  instingtif  dan  perseorangan,  karenanya  sensitivitas  setiap  orang  juga  berbeda. Pada  berbagai  aliran  seni  lukis  dalam  sejarah  seni  rupa  telah  dikenal  manifestasi  tatawarna tertentu,  seperti  skema  warna  klasik,  skema  warna  Rembrandt,  dan  lain  sebagainya.

    Peran warna dalam kegiatan seni lukis sangat esensial, baik pada masa pramodern, masa modern, maupun masa posmodern. Pada umumnya para pelukis memanfaatkan warna untuk menyatakan  gerak,  jarak,  tegangan,  deskripsi  rupa  alam,  naturalis,  ruang,  bentuk,  ekspresi atau  makna  simbolik.  Guna  memahami  lebih  komprehensif  peran  warna  dalam  seni  lukis, berikut  ini  akan  disajikan  sifat  optis  warna,  notasi  warna,  warna  objek,  dan  pigmen,  yang semuanya  sangat  menentukan  kualitas  penciptaan  sebuah  lukisan.

c.   Sifat  Warna
    Dalam  teori  warna  dikenal  ada  tiga  sifat  optis, optical  property,  yaitu: hue, value,  dan saturation. Hue  adalah  tingkat  kepekatan  warna,  misalnya  merah,  oranye,  atau  hijau,  biru, biru keunguan dan seterusnya. Va l u e adalah fenomena kecemerlangan dan kesuraman warna. Nilai  rendah  adalah  warna  yang  cenderung  suram  atau  kegelapan,  sementara  nilai  tinggi adalah  kecenderungan  warna  yang  terang  dan  cemerlang.  Misalnya,  gejala  demikian  dapat kita lihat pada skala gradasi warna abu-abu dari hitam ke putih. Saturation adalah intensitas nada  warna  untuk  menunjukkan  warna-warna  menyala,  dan  warna-warna  yang  suram. Semakin  murni  penggunaan  warna  semakin  tinggi  intensitasnya,  sebaliknya  semakin  tidak murni  penggunaan  warna  semakin  rendah  intensitasnya.Pada  tahun  1940-an  seni  lukis  Affandi  dominan  menggunakan  warna-warna  suram  atau kusam,  kemudian  lukisannya  berkembang  ke  penggunaan  warna-warna  yang  cerah.  Lihat Gambar 2.2 (halaman 9), Karya Affandi Potret Diridan Matahari,  1977,  yang  menggunakan  warna-warna  merah,  oranye,  kuning  dengan  warna  latar belakang  yang  terang  abu-abu  keputihan.

d.   Notasi  Warna
    Notasi  warna  (color  notation)  adalah  sistem klasifikasi  atau  identifikasi  warna  menurut  sifat optisnya.   Dalam   konteks   ini   dikenal   Sistem Munsell,  Sistem Ostwald,  Sistem Plochere,  dan Sistem Maxwell.  Tatanan  warna  dalam the  hues of  the  spectrum  terdapat  pada  warna  pelangi di   alam.   Sedangkan,   dalam   lingkaran   warna (color  circle)  dapat  dilihat  warna  primer,  merah, biru,  dan  kuning.  Warna  sekunder  yaitu  hijau, ungu,  dan  oranye.  Ketiganya  merupakan  hasil pencampuran warna primer. Warna komplementer letaknya bertolak belakang pada lingkaran warna, misalnya, merah dengan hijau, biru dengan oranye, dan  kuning  dengan  ungu.  Terang  dan  gelap diungkapkan  dengan  warna  putih  dan  hitam.  Sedangkan  warna  netral  adalah  warna  abu-abu.  Bila hue  adalah  nama  suatu  warna, value  kecerahan  dan  kecemerlangan  warna,  maka chroma  adalah  sifat  kualitas,  intensitas,  dan  kejernihan  warna.

e.   Warna-Warna Antara
    Setelah  warna  primer,  warna  sekunder,  dan  warna  komplementer,  dikenal  pula  warna-warna  antara,  (intermediate  color),  seperti  merah  oranye,  merah  ungu,  biru  ungu,  hijau biru,  kuning  hijau,  dan  oranye  kuning.  Sebenarnya  dalam  teori  warna,  jumlah  warna  ada delapan  puluh  warna.

f.    Warna hangat dan warna sejuk
Dari  lingkaran  warna  dapat  pula  ditentukan  warna  hangat-panas  (the  warm  color)  dan warna  sejuk-dingin  (the  cool  color).  Warna  yang  memberi  efek  kehangatan  adalah  merah, oranye  dan  kuning,  sementara  warna  hijau  dan  biru  memberikan  efek  yang  menyejukkan.Pengertian  ini,  kita  terjemahkan  dari  pengalaman  keseharian,  pada  saat  kita  mendekati warna  api  yang  merah,  kita  tentu  merasa  kehangatan,  atau  jika  terlalu  dekat  bisa  kepanasan. Sementara bila kita berada di daerah pegunungan yang hijau atau gunung yang kebiruan kita merasakan iklim yang sejuk. Asosiasi kita mengenai pengalaman real seperti itu menyebabkan kita  mengartikan  sifat  warna  menjadi  hangat-panas  bagi  warna  merah,  oranye  dan  kuning, sementara  warna  hijau  dan  biru  memberikan  efek  menyejukkan  atau  dingin.

g. Warna kromatik dan akromatik

Warna kromatik  (chromatic color), terdiri dari warna hitam, putih, dan abu-abu, selebihnya termasuk  warna  akromatik  (achromatic  color),  seperti  merah,  biru,  kuning,  hijau,  oranye dan  seterusnya.  Dalam  seni  lukis  penggunaan  warna  tunggal  sering  diartikan  sebagai  warna kromatik,  sementara  penggunaan  warna  yang  meriah,  menggunakan  banyak  warna,  disebut polychromatic.

h. Warna objek dan warna pigmen
Warna objek adalah warna yang terkena sinar warna spektrum, yang mengenai mekanisme mata  pengamat.  Warna  spektrum  tersebut  memiliki  panjang  gelombang  tertentu  yang dipantulkan oleh objek pengamatan. Jika objeknya biru, maka warna spektrum biru panjang gelombang  birulah  yang  diserap  mata  pengamat.  Ini  berarti  pantulan  warna  tersebut  adalah pantulan  warna  biru,  sedangkan  sisanya  diserap  oleh  permukaan  objek  tersebut.
    Warna pigment  atau coloring  material  berupa  bubuk  halus  yang  disatukan  dengan  zat pengikat atau paint vehicle merupakan warna cat yang dikenal luas, seperti cat air, cat poster, cat gouache,  cat  tempera,  cat  minyak,  cat  akrilik,  dan  lain  sebagainya.

3. Ruang

    Ruang, space,  extens  or  area  of  ground, surface  etc.  Artinya,  ruang  adalah  keluasan  dari suatu  bidang  atau  permukaan.  Dalam Design  Elementer  disebutkan  ruang  bisa  dikatakan bentuk  dua  atau  tiga  dimensional,  bidang  atau  keluasan.  Keluasan  positif  atau  negatif  yang dibatasi  oleh  limit.Berbeda dengan pengertian garis, ruang mempunyai dua dimensi tambahan yaitu lebar dan dalam.  Ruang  mempunyai  gerakan  arah  dan  ciri  umum  seperti  halnya:  diagonal,  horisontal, bergelombang,  lurus,  melengkung  dan  lain-lainnya.  Guna  memperjelas  ini,  maka  batasan utama  adalah  yang  paling  sesuai,  yaitu  ruang  adalah  keleluasaan  dari  satu  bidang  atau permukaan  yang  mempunyai  bentuk  dua  dimensional.

4. Tekstur

    Pada umumnya para pelukis memanfaatkan tekstur, texture is quality of surface: smooth, rough,  slick,  grainy,  soft,  or  hard.  Kualitas  taktil  dari  suatu  permukaan,  nilai  kesan  raba  atau berkaitan  dengan  indra  peraba.  Suatu  struktur  penggambaran  permukaan  objek,  seperti. buah-buahan,  kulit,  rambut,  batu,  kain,  barang  elektronik,  dan  lain  sebagainya.  Tekstur  bisa kasar,  halus,  keras,  lunak,  berbutir,  bisa  juga  kasar  atau  licin,  teratur,  atau  tidak  beraturan, sesuai  dengan  kualitas  yang  ingin  diekspresikan.

    Tekstur dibuat di atas kanvas, bisa dengan cat yang dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti modeling paste, pasir, bubuk marmar, dan lain-lain. Pada umumnya tekstur digunakan tidak  semata-mata  dari  segi  teknis,  tetapi  mengacu  kepada  substansi  lukisan,  atau  ekspresi lukisan.  Jika  nilai  ekspresi  merupakan  unsur  pokok  lukisan,  maka  pemanfaatan  tekstur merupakan pendukung pengejawantahan nilai ekspresi itu sendiri. Para pelukis memanfaatkan unsur  tekstur  untuk  variasi,  fokus  atau  kesatuan.  Kesemuanya  itu  dapat  terjadi  dengan kesengajaan pelukisnya, maupun karena sifat dari media yang dipakai ketika melukis. Dalam kaitannya dengan para pelukis formalis, maka fungsi teksur dapat berubah sebagai unsur yang berdiri  sendiri,  artinya  tidak  ada  kaitannya  dengan  tujuan  eksternal  tertentu.  Bagi  mereka, penggarapan tekstur semata-mata untuk mencapai efek estetis dalam kesatuan lukisan.

5. Bentuk

    Karya  seni  rupa  mempunyai  bentuk,  realistik  atau  abstrak, representasional  atau nonrepresentasional, dirancang dengan cermat dan hati-hati yang dihasilkan dengan spontan. Seni  lukis,  apapun  jenis  dan  alirannya  merupakan  pengorganisasian  elemen  rupa  menjadi bentuk  seni.

    Dalam teori seni pemakaian istilah bentuk merupakan terjemahan dari shape, sedangkan istilah wujud  merupakan  terjemahan  dari form.  Bentuk  biasanya  diartikan  sebagai  aspek visual,  bagian-bagian  yang  tergabung  menjadi  satu  yang  disebut  rupa  atau  wujud.  Dalam konteks  seni  rupa,  wujud  mengandung  pengertian  yang  khas,  yaitu  yang  memberikan tatanan  khusus  sehingga  mampu  memengaruhi  persepsi  pengamat.  Artinya  wujud  atau perupaan  yang  mampu  merangsang  pengalaman  psikologis  tertentu  bagi  pengamat.  Dalam praktiknya  istilah  ini  sering  dipertukarkan  pemakaiannya.  Di  Indonesia  pada  umumnya hanya  dipergunakan  istilah  bentuk  untuk  mengartikan  rupa  atau  wujud  karya  seni.

    Bentuk  dalam  pengertian  seni  lukis,  memiliki  banyak  segi,  ada  bentuk figuratif,  bentuk semi figuratif  dan  bentuk  nonfiguratif.  Bentuk figuratif  bisa  menghasilkan  bentuk  imitatif yakni berupaya meniru segala bentuk perwujudan benda-benda alam (keindahan pegunungan, pantai, daerah pertanian, fauna, flora, potret, dalam setting alamiahnya) atau bentuk ciptaan manusia  seperti  pabrik,  kota,  pelabuhan,  cafe,  dan  lain-lain.


C.  Penciptaan Desain

    Desain  sebagai  kata  kerja  berarti  proses  penciptaan  objek  baru,  sedangkan  sebagai  kata benda  desain  berarti  hasil  akhir  sebuah  proses  kreatif  baik  dalam  wujud  rencana,  proposal, atau  karya  desain  sebagai  objek  nyata.

    Sebagai  aktivitas  reka  letak  atau  perancangan,  desain  dikerjakan  untuk  memenuhi kebutuhan  masyarakat  akan  benda-benda  fungsional  yang  estetis.  Proses  kreasi  desain mencakup:
1.   studi  pendahuluan;
2.   profil  pasar  dan  segmen  konsumen;
3.   alternatif  desain;
4.   uji  coba;  dan
5.   standar  prosedur  produksi.

    Penciptaan  desain  bisa  atas  dasar  pesanan  pihak  tertentu,  dan  bisa  pula  berupa  ciptaan pendesain  yang  ditawarkan  kepada  masyarakat  yang  menjadi  segmen  pasar.  Pada  tahap studi  pendahuluan  pendesain  mengkaji  tren  produk  sejenis,  aspek  bahan  baku,  teknik  dan proses  kreasi,  susunan  rupa,  gaya,  fungsi,  harga,  dari  jenis  desain  yang  akan  diciptakan.

    Penciptaan  alternatif  desain  pada  umumnya  mempertimbangkan  faktor  kebutuhan fungsional,  faktor  estetis,  faktor  lingkungan,  faktor  kenyamanan  dan  keamanan  masyarakat pengguna  desain,  baik  dalam  arti fisik  maupun  mental.  Sedangkan  uji  coba  merupakan upaya mendeteksi sejauh mana alternatif desain awal telah memenuhi kriteria standar desain. Kesimpulan  dari  hasil  analisis  dan  evaluasi  yang  dilakukan  digunakan  untuk  memperbaiki desain  awal,  sehingga  diperoleh  karya  desain  yang  representatif  dan  memuaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi

PENILAIAN AKHIR SEMESTER KELAS 12 - SENI BUDAYA