Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian
Secara umum diferensiasi dan stratifikasi sosial memberikan pengaruh positif dan negatif pada masyarakat. Pengaruh positifnya, diferensiasi dan stratifikasi sosial dapat mendorong terjadinya integrasi sosial, sedangkan pengaruh negatifnya adalah terjadinya disintegrasi sosial. Diferensiasi sosial dapat menimbulkan primordialisme, etnosentrisme, politik aliran, dan terjadinya proses konsolidasi
Konflik, Kekerasan, dan Perdamaian
Konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan, misalnya perbedaan ciri badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat. Perbedaan- perbedaan dalam masyarakat akan memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakatnya tidak dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut.
Kekerasan
Kekerasan adalah bentuk lanjutan dari konflik sosial. Kekerasan didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan dibedakan menjadi dua yaitu kekerasan langsung (direct violence) dan kekerasan tidak langsung (indirect violence) Secara sosiologis, kekerasan umumnya terjadi saat individu atau kelompok yang berinteraksi mengabaikan norma dan nilai-nilai sosial dalam mencapai tujuan masing-masing.
Teori-Teori tentang Kekerasan
- Teori Faktor Individual, agresivitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan.
- Teori Faktor Kelompok, terjadi karena benturan identitas kelompok yang berbeda.
- Teori Dinamika Kelompok, kekerasan yang timbul karena adanya deprivasi relative (kehilangan rasa memiliki) yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat.
Perdamaian
Akibat yang ditimbulkan oleh konflik sosial antara lain, pertama, bertambahnya solidaritas kelompok (in- group feeling) atau goyah dan retaknya suatu kelompok. Kedua, perubahan kepribadian seseorang. Ketiga, hancurnya harta benda atau korban jiwa. Keempat, akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak.
Kondisi sosial akibat konflik jelas merupakan kondisi yang tidak menyenangkan bagi salah satu pihak, terutama dari pihak yang kalah. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab adanya perdamaian. Istilah damai ini sering diartikan sebagai ketenteraman, harmoni, dan ketenangan.
Pemetaan Konflik
Pemetaan konflik
Pemetaan konflik menurut Simon Fisher, meliputi pihak-pihak yang berkonflik dan aspirasi dari berbagai pihak. Pemetaan konflik ini adalah cara untuk menggambarkan konflik secara grafis, yaitu menghubungkan antara pihak yang bermasalah dengan pihak lain. Amr Abdalla, seorang sosiolog dari University for Peace yang dibentuk oleh PBB, juga memetakan konflik dengan model source, issues, parties, attitude, behavior, intervention, dan outcome (SIPABIO).
Bentuk-Bentuk Konflik
Lewis A. Coser membedakan konflik atas dua bentuk yaitu, konflik realistis dan konflik nonrealistis. Berdasarkan kedua bentuk konflik tersebut, Lewis A. Coser membedakan konflik atas konflik in-group dan konflik out-group. Ahli lain, Ralf Dahrendorf membedakan konflik atas empat macam, yaitu konflik antara peran- peran sosial, konflik antara kelompok-kelompok sosial, konflik antara kelompok-kelompok yang terorganisasi dan tidak terorganisasi, dan konflik- konflik di antara satuan nasional
Isu dalam Konflik
Isu dalam konflik berkaitan dengan hal-hal yang mencuat dalam konflik. Isu dalam konflik dengan demikian berkaitan dengan konflik yang terjadi.
Pihak yang Berkonflik
Soerjono Soekanto menyebutkan lima bentuk khusus konflik atau pertentangan yang terjadi dalam masyarakat. Yaitu, konflik pribadi, konflik rasial, konflik antara kelas-kelas sosial, konflik politik, konflik internasional.
Dari sudut psikologi sosial, Ursula Lehr mengemukakan bentuk-bentuk konflik, yaitu konflik dengan orang tua sendiri, konflik dengan anak-anak sendiri, konflik dengan keluarga, konflik dengan orang lain, konflik dengan suami istri, konflik di sekolah, konflik dalam pemilihan pekerjaan, konflik agama, konflik pribadi.
Dinamika Konflik
Menurut Wehr dan Bartos, dinamika konflik dapat dilihat dari tingkat kekerasan. Untuk memahami dinamika konflik adalah dengan melihat sumber konflik, menganalisis karakter hubungan di antara berbagai pihak yang berkonflik, mencari model tindakan yang harus dilakukan, dan yang terakhir adalah melihat penahapan konflik. Tahapan dinamika konflik menurut Fisher adalah sebagai berikut.
- Prakonflik adalah adanya situasi ketidaksesuaian antara pihak satu dengan pihak lain
- Konfrontasi adalah mulai terbukanya suatu konflik
- Krisis adalah puncak terjadinya konflik atau pecahnya suatu
Komentar
Posting Komentar